Di Parung, Surga Bertetangga Neraka

9 10 2009

Oleh Mas Anto Py

Di Parung Bogor Jawa Barat, kebaikan bersanding dengan kebatilan,  “neraka” bertetangga dengan “surga”. Ironi itu betul-betul terjadi dan dapat disaksikan di kawasan yang terletak sekitar 40 kilometer barat daya kota Jakarta itu. Kalau tidak percaya, melitaslah ke jalan raya Parung – Bogor, antara pukul 20.00 – 02.00 dini hari. Pastilah akan didapati betapa hingar bingarnya suasana malam. Wanita-wanita berbusana ketat, yang tak lengkap membalut aurat, berjejer di sepanjang jalan.

Warga di sekitar menamainya warung “remang-remang”, karena bagian dalam warung itu hanya diterangi lampu lima watt berwarna merah, hijau, biru atau kuning. Warung itu tak banyak menjajakan makanan atau minuman sebagaimana warung pada umumnya.

Pengunjung warung itu memang tak terlalu butuh banyak makanan atau minuman. Lagi pula apa enaknya makan atau minum di bawah kegelapan seperti itu. Para pengunjung lebih butuh pedaganganya, yang tak lain adalah wanita-wanita berbusana ketat itu. Yang disebut warung itu, sebenarnya hanyalah “gerai”, dimana setalah transaksi jual beli itu terjadi, “penjual dan pembelinya” pergi bersama-sama ke suatu tempat yang hanya mereka dan Tuhan yang tahu.

Hanya beberapa jengkal dari lokasi itu, terdapat pula puluhan pesantren besar-kecil, seperti Pondok Pesantren Darul Muttaqien –filial (kelas jauh) Pesatren ternama di Jakarta, Darul Najjah–, Pondok Pesantren Darussalam, Pondok Pesatren Al Hidayah.
Bahkan di situ juga ada Pesantren Smart Akselensia, pesantren yang didirikan lembaga amil Dompet Dhuafa Republika dan BoardingSchool (Pesantren) Dwi Warna milik yang didirikan oleh Ginandjar Kartasasmita.

Dua “dunia” itu telah bersandingan dan hanya dibatasi oleh tembok bangunan masing-masing. Salah satu tetua Desa Jampang, pernah menuturkan kepada penulis, bahwa fenomena itu telah terjadi sejak puluhan tahun lalu. Warung-warung itu memang sudah ada sejak tahun 60-an, dan kini memang jumlahnya semakin banyak, demikian jugawanita-wanitanya. Pesantren-pesantren besar kecil juga telah hidup berakar sejak lama di sini, jumlahnya juga semakin banyak. ”

“Ironis, tapi itulah yang terjadi. Ini bukan contoh yang baik, tentang toleransi. Ini anomali, karena semestinya hal seperti ini tak boleh terjadi,” kata tetua desa, yang mengaku tak bisa berbuat apa-apa karena aparat selalu “angin-anginan” memberantaswarung-warung di jalur Boteng (Bogor tengah ini).

Kalangan pesantren tentu saja sebenarnya tidak dengan senang hati mau berdampingan dengan warung remang-remang. Mereka risi dan menginginkan prostitusi di kawasan ini hilang. “Tapi kita tidak mau menggunakan cara kekerasan, karena terbukti kekerasan tak dapat menghapus warung-remang-remang di sini,” ujarnya.

Perlawanan dengan kekerasan terhadap prostitusi sebenarnya bukan tidak pernah dilakukan, pada medio 2000 lalu Front Pembela Islam (FPI) pernah melakukan “penyerangan” dan mengobrak-abrik kawasan prostitusi itu. Namun apa yang terjadi, justru timbulnya perlawanan sengit dari centeng warung remang-remang itu, dan FPI “kalah”. Penyerangan kedua dan penyerangan lainnya tak pernah terjadi lagi, dan warung remang-remang semakin merebak. Yang terjadi sekarang adalah hampir setiap minggu bangunan warung semi permanen itu terus bertambah.

Bahkan terakhir, telah berdiri pula diskotik-diskotik yang diduga sebagai “mediasi” bagi transaksi seksual wanita “berbaju ketat” dengan pria hidung belang.
Mereka yang mengaku sangat prihatin dengan keadaan itu, juga tak bisa melakukan apa-apa. Lembaganya keagamaan yang telah berdiri di kawasan itu belum dapat berbuat banyak untuk membatasi ruang gerak prostitusi di daerah itu. Mereka tidak mampu mendidik lingkungan sekitar menjadi lingkungan yang baik, sehat dan lebih bermoral.
Mengeliminasi kegiatan prostitusi di warung remang-remang,  memang bukan hal mudah.

Di parung kegiatan prostitusi itu sudah berkembang menjadi semacam ‘industri’, yang dimodali dan didukung oleh kekuatan mafia prostitusi. Keberadaan pesantren yang banyak jumlahnya harusnya menjadi kekuatan penyeimbang, dan dapat melakukan penetrasi agar kegiatan prostitusi dapat dieliminasi.

Aparat pemerintah daerah dan kepolisian perlu serius mengatasi hal itu, karena selama ini arapat terkesan angin-anginan mengurusi hal ini.  Bahkan ada yang berburuk sangka, aparat justru ikut ambil bagian dalam bisnis itu. Pembiaran kegiatan itu oleh aparat, disebabkan pemerintah Kabupaten Bogor tak memiliki kerangka kebijakan yang jelas untuk menata kawasan Parung.  Padahal jelas-jelas bahwa kegiatan prostitusi di situ ilegal.

Tak tahu harus dari mana untuk memulai membereskan masalah itu.

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: