Sepenggal Romansa Malam di Tepian Musi

4 03 2012

Oleh Teguh Priyanto

Saat siang boleh saja Palembang teramat terik, namun saat matahari telah luruh keperaduan, tepian sungai Musi menjelma menjadi tempat nongkrong nan elok.

Berlatar jembatan Ampera yang berhias lampu warna-warni, para pelancong bisa menikmati malam nan romantis, sambil bersantap hidangan laut yang lezat di restoran terapung “River Side”.

“Ini adalah salah satu ‘spot’ teromantis di kota Palembang,” kata Teddy Johan (28) yang pada Jumat malam, baru saja mencicipi ekor tengiri bakar, salah satu hidangan andalan restoran itu.

Teddy berkunjung ke tepian sungai Musi, selepas menyaksikan perhelatan SEA Games 2011 di Kompleks Olahraga Jakabaring (Jakabaring Sport City/JSC) bersama dua orang temannya. Ia mengaku kerap menghabiskan akhir pekan di tepian Sungai Musi, untuk bersantap atau sekedar duduk-duduk menikmati angin malam di pinggir sungai terbesar di Sumatra itu.

Malam itu, kawasan tepi sungai Musi memang padat oleh tetamu dari berbagai negara. Mereka adalah atlet, ofisial maupun tim pendamping dari negara-negara di kawasan Asia Tenggara yang turut dalam perhelatan olahraga terakbar se-Asia Tenggara itu.
Setelah lelah bertanding rupanya mereka juga memilih tepian sungai Musi sebagai tempat rehat. Sambil menikmati hidangan khas “River Side”, mereka bercengkerama dan berkaraoke sesama rekan atlet.

“Banyak sekali tamu hari ini, sampai-sampai kami kewalahan,” kata Annisa D (23), salah satu karyawan restoran River Side kepada ANTARA, Sabtu malam. Padahal menurut Annisa, restorannya telah menggandakan jumlah pelayannya. Setelah ditambah, jumlah karyawan mereka saat ini mencapai 150 orang.

“River Side” adalah restoran yang menggunakan perahu tongkang yang disulap menjadi sebuah restoran dua lantai. Dari beranda restoran itu, tamu restoran dapat melihat pemandangan Jembatan Ampera kebanggaan masyarakat Palembang yang megah di kala malam.
Jika ingin mendapatkan sensasi berbeda, tamu-tamu “River Side” bisa menyewa restoran kapal berkapasitas 80 orang, yang akan membawa mereka menyusuri sungai Musi sambil bersantap malam dan mendengarkan alunan merdu biduan kapal yang menyanyikan lagu-lagu cinta.

“Tarifnya Rp3,5 juta per empat jam sudah termasuk servis hiburan. Tapi belum termasuk makanannya, ya,” kata Annisa sambil tersenyum ramah.

Menu yang disajikan River Side, cukup beragam, tapi umumnya adalah hidangan laut (sea food), seperti kepiting saus tiram, kerapu, udang, kangkung sea food, tengiri dan ikan seluang.

Menu andalan “River Side” adalah udang bakar cabai saus boom baru. Menurut Annisa, demi mendapatkan udang yang benar-benar baik dagingnya, digunakan udang dengan isi tujuh ekor tiap kilogramnya.

“Udang berukuran sedang ini bisanya berasa manis dan berdaging empuk. Udang-udang itu kemudian diolesi saus cabai pedas dan sedikit sirup jeruk, membuat cita rasanya sangat ‘nendang’,” katanya.

Rumah Rakit
Selain di “River Side”, pengunjung juga bisa menikmati keindahan Sungai Musi dari rumah rakit. Rumah rakit merupakan rumah mengapung yang terbuat dari kayu atau bambu dengan atap kajang (nipah) atau sirap.

Rumah rakit diyakini sebagai jenis rumah tertua di kota Palembang yang telah ada sejak jaman Sriwijaya.
Pada masa kesultanan Palembang Darussalam, semua tamu-tamu dari negeri lain, seperti pedagang dari Cina, Campa, Siam, Spanyol,

Belanda dan Inggris, harus menetap di atas rumah rakit. Bahkan Kantor Dagang Belanda (VOC) pertama juga didirikan di atas rakit.
Rumah rakit selain sebagai tempat tinggal juga berfungsi sebagai gudang industri kerajinan, bahkan pada era 1990-an rumah sakit pun di bangun di atas rakit.

Konon, pasien lebih cepat sembuh jika dirawat di rumah sakit terapung itu, karena mereka dapat melihat kehidupan sepanjang sungai Musi yang dulu sangat indah.

Sejak masa purba, sungai Musi memang telah menjadi urat nadi kehidupan masyarakat Palembang. Dalam catatan pengelana Cina bernama I-tsing (abad ke-7 Masehi) dan sejarawan Arab klasik Mas’udi (abad ke-9 Masehi), di kutaraja Sriwijaya (Palembang) yang terletak di tepian sungai Musi, banyak berlabuh kapal-kapal asing untuk berniaga dengan kerajaan Sriwijaya.

Pedagang dari Arab, China, Siam dan India membeli hasil bumi dan rempah-rempah dari Kerajaan Sriwijaya, sedangkan Sriwijaya mengimpor sutra dan keramik dari China, manik-manik dari India, serta gerabah dari Siam.

Tradisi hidup di air itu berlangsung hingga masa Kesultanan Palembang Darussalam, Penjajahan Belanda dan masa kemerdekaan.
Sisa-sisa kehidupan air itu bahkan masih terus berlangsung hingga kini.

Banyak masyarakat Palembang yang tetap hidup di rumah rakit atau rumah-rumah panggung di sepanjang tepian sungai Musi, yang membentang sepanjang puluhan kilometer ke arah hulu.***

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: