Warsinah Sudah Bisa Tanda Tangan KTP

4 03 2012

Buta AksaraOleh Teguh Priyanto

Warsinah kecil dulu sangat rindu bersekolah, hampir tiap hari ia menyambangi sekolah rakyat di Pagejugan, sebuah dusun di sudut kabupaten Brebes.

Ia belum bisa diterima, karena saat diminta gurunya agar tangan kanannya disilangkan di atas kepala, jari mungilnya belum bisa menjangkau telinga kirinya.

Menyentuh telinga dengan tangan disilangkan di atas kepala merupakan cara kuno penerimaan siswa baru yang banyak dilakukan sekolah di Jawa Tengah bagian barat pada era awal kemerdekaan hingga tahun 1960-an.

Warsinah gagal diterima di sekolah itu, tapi ia bersikukuh, sehingga gurunya memperkenankan ia mengikuti pelajaran, tapi statusnya sebagai murid “bawang kothong” (anak bawang).

Tapi suka cita bersekolah tak lama dirasakan Warsinah, karena saat umurnya beranjak tujuh tahun, ia dikawinkan paksa oleh orang tuanya.
Warsinah yang kala itu belum tahu apa itu menikah dan masih suka “dodolan” dan bermain masak-masakan dengan sebayanya, berontak. Tapi si kecil Warsinah tak berdaya.

Dan selanjutnya ia hanya bisa menjalani takdirnya; menikah dengan lelaki pilihan orang tuanya dan membiarkan keinginannya bersekolah terhempas laksana buih ombak pantai utara Jawa.

“Setelah menikah sebenarnya saya sering mencoba melarikan diri untuk bermain dengan teman-teman atau melihat sekolah, tapi kalau ketahuan suami, saya pasti “ditheoti” (dicubiti) sampai gosong,” kata Warsinah (65), yang ditemui ANTARA di Brebes, Kamis. Ia pernah pula mencoba melarikan diri ke Lampung menyusul kakaknya, tapi ia tak betah dan akhirnya ia kembali lagi ke Pagejugan.

Beberapa tahun kemudian –saat ia berusia 12 tahun– Warsinah bercerai, namun ia lebih memilih untuk menikah lagi, bukan bersekolah, karena ia merasa malu dengan teman-temannya. Keinginannya bersekolah semakin pupus, saat ia mulai direpotkan dengan kelahiran tujuh anaknya.

Garis nasib telah membawanya menjadi penyandang buta aksara hingga usia senja. Selama itu pula, ia mengaku tak pernah membubuhkan tanda tangan di kartu tanda penduduk (KTP)-nya. Cukup cap jempol!

Tapi itu lima tahun lalu. Keadaan kini telah jauh berbeda. “‘Nyong’ sudah bisa tanda tangan KTP sendiri. Bu Dewi yang mengajari,” katanya bangga. Bukan hanya tanda tangan, Warsinah bahkan telah sedikit-sedikit bisa mengeja aksara.
Sejak 2007 lalu, Warsinah memang telah menjadi warga belajar di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Trampil Desa Pagejugan,

Brebes, yang diasuh oleh Dewi Hendayati (32) dan Abdul Kadir (33). Warsinah mengaku menemukan kembali kerinduannya bersekolah dan belajar baca tulis, seperti saat masa kecilnya.

“Tapi saya hanya bisa baca huruf yang besar-besar, karena mata saya sudah kabur. Kalau baca koran susah, soalnya tulisannya kecil-kecil. Paling-paling baca iklan di tivi,” kata nenek 14 cucu itu polos. PKBM Trampil, menurut Abdul Kadir, kini mengasuh 50 warga belajar. Usianya berkisar antara 20-66 tahun dan sebagian besar adalah kaum perempuan.

Selain Warsinah, ada Widjah (65) dan Sumidah (60). Mereka adalah wanita senja usia yang memiliki motivasi besar untuk belajar membaca dan menulis. Bahkan mereka saat ini tengah berjuang untuk mendapatkan Surat Keterangan Melek Aksara (Sukma) 1.

“Saya tidak malu, buat apa ‘isin’ (malu) kalau mau pinter. Kalau hujan saya juga tetap berangkat ke tempat Bu Dewi,” kata Widjah, perempuan beranak sembilan yang rata-rata hanya lulus sekolah dasar (SD) itu.

Tapi sayang, tidak banyak warga Pagejugan yang seperti Widjah, Warsinah atau Sumidah. Rata-rata mereka enggan berangkat ke PKBM, karena malu atau menganggap kegiatan itu tak ada gunanya.
Masalah buta aksara di desa Pagejugan, kata Abdul Kadir, memang masalah kronis sejak masa penjajahan, awal kemerdekaan hingga era sekarang.

“Desa ini sampai sekarang memang masih terbelakang. Bahkan di sini ada satu dukuh yang semua warganya buta huruf, dan belum tersentuh sampai sekarang. Itu kenyataan, Mas” ujarnya berusaha blak-blakan. Ironisnya desa ini bukan desa yang terlalu terisolir, hanya berjarak belasan kilometer saja dari pusat kota Brebes.

Menurut Abdul Kadir, banyak sekali anak putus sekolah di kampungnya. Rata-rata disebabkan masalah ekonomi dan demografi. “Warga di sini anaknya banyak-banyak. Tak banyak yang ikut KB (Keluarga Berencana). Teman-teman seumuran saya, banyak yang anaknya sudah tujuh bahkan ada yang sembilan,” akunya.

Akibatnya banyak anak-anak usia sekolah tidak terurus. Anak-anak terutama yang perempuan, biasanya dipaksa untuk untuk meninggalkan sekolah, demi mengasuh adik-adiknya. Yang laki-laki, biasanya menjadi buruh tani atau merantau ke Jakarta menjadi buruh atau kuli kasar. “Ini yang jadi penghambat belajar,” katanya lugas.

Jika anak perempuan mulai beranjak remaja, mereka juga segera meninggalkan desa menuju ibukota, untuk menjadi pelayan di warteg (Warung Tegal). Kebanyakan warga tak menganggap bisa baca tulis itu penting, karena tanpa baca tulis pun, mereka mendapatkan uang.
“Kalau ada orang mau belajar baca tulis, sering ‘digojeki’ (diejek) sehingga mereka malu dan lantas nggak berangkat. Jadi kalau pembelajaran di PKBM melulu hanya kegiatan baca tulis dipastikan tidak akan berhasil,” ujarnya.

Oleh karena itu, Abdul Kadir, ayah tiga anak yang telah menyelesaikan Program Magister Pendidikan Agama Islam di IAIN Sunan Gunung Jati Cirebon itu, memodifikasi pembelajaran di PKBM Trampil dengan menyisipkannya pada pengajian.
“Awal mulanya warga kita sadarkan supaya jangan hanya ‘jiping” (ngaji kuping –mengaji dengan cara mendengarkan) saja. Mereka harus bisa membaca huruf hijaiyah dan membaca Alquran, supaya mengaji dan ibadahnya lebih sempurna” ujarnya.

“Makanya warga kami ajari dulu belajar “Iqro”. Lama-kelamaan kan mereka membutuhkan mengartikan ayat Alquran. Nah di situlah pembelajaran keaksaraan bisa dimasukkan,” ujarnya.
Mengaji menjadi pintu masuk yang efektif, karena warga lebih nyaman disebut “ngaji” ketimbang “sekolah”, ujar pria rendah hati itu.

Menurut Dewi, mengajar warga belajar di PKBM trampil membutuhkan kesabaran ekstra dan strategi khusus. “Kita harus panda-pandai merangkul mereka dan fleksibel,” ujarnya.

Biasanya pada masa panen, warga belajar akan disibukkan dengan pekerjaan mereka, kalau mereka disuruh datang ke PKBM biasanya mereka enggan, karena itu pengasuh harus “jemput bola”, menyambangi warga belajar.

Demi menarik minat mereka, Dewi dan Abdul Kadir bahkan kerap kali merelakan honornya yang hanya Rp150 ribu per bulan untuk membeli “suguhan” dan membeli seragam PKBM Trampil, agar mereka mau belajar.

“Jika ada uang lebih, kita ajak mereka ‘field trip’ ke alun-alun Tegal, untuk memberi penyegaran bagi mereka. Tentang honor, biar ‘Yang di Atas’ yang ngasih,” ujarnya seraya tersenyum.

Beberapa kali PKBM-nya memang memperoleh dana bantuan operasional sebanyak Rp3,6 juta, tapi itu jauh dari cukup untuk menyelenggarakan kegiatan belajar mengajarnya.

Melek aksara rendah
Brebes memang merupakan salah satu daerah dengan tingkat melek huruf paling rendah di Jawa Tengah. Brebes menempati peringkat 29 dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah. Bahkan peringkat lama belajar warga brebes jauh lebih buruk yakni, peringkat 34 dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah.

Berdasarkan data BPS tahun 2005, di Brebes angka buta huruf mencapai 57.600 orang. Namun berdasarkan catatan Dinas Pendidikan Kabupaten Brebes, sejak 2006 hingga 2011, pihaknya telah mengentaskan hampir 75 ribu orang buta aksara. Tidak disebutkan angka pasti berapa jumlah warga buta aksara pada 2011 ini.

“Tingginya angka buta aksara di Brebes antara lain disebabkan oleh faktor kesulitan ekonomi, kependudukan, dan kondisi geografis,” ujar Kepala Bidang Pendidikan Non Formal dan Informal (PNFI) Dinas Pendidikan Kabupaten Brebes, Budi Adjar Pranoto.

Kecamatan seperti Salam, Bantar Kawung dan Paguyangan di Brebes Selatan, katanya, memang sulit dijangkau, karenanya tingkat melek huruf disana juga rendah. Sedangkan buta aksara di kawasan pantai utara Jawa (Pantura), karena disebabkan faktor ekonomi.
“Masyarakat setempat banyak yang bekerja di sektor informal, yang tak membutuhkan ketrampilan baca tulis. Akibatnya mereka merasa, tidak ada gunanya bisa baca tulis,” ujarnya.

Kondisi itu juga menyebabkan tingkat lama belajar warga Brebes hanya 5,6 tahun. “Itu artinya kalau di rata-rata, warga Brebes tidak lulus SD, karena hanya bersekolah 5,6 tahun saja,” ujarnya.

Budi mengakui pihaknya masih harus bekerja keras untuk membuat tingkat melek huruf dan tingkat lama belajar warganya meningkat.
Salah satunya dengan program “jaring dan garap” (jaga) yang dilakukan oleh pengawas di tingkat kecamatan, dan massalisasi pemberantasan buta aksara di PKBM dengan melibatkan 2.000 mahasiswa Universitas Negeri Semarang (Unes).

Namun, katanya, kegiatan itu semua tak akan cukup, jika warga tidak dibangkitkan motivasinya untuk belajar. “Akar persoalannya harus dipecahkan, ibarat membasmi nyamuk tak cukup hanya disemprot DDT, tapi harus dihilangkan sarang dan telurnya,” ujarnya.
Setidaknya, warga perlu dibuat bangga bisa baca tulis, seperti Warsinah yang sangat bangga bisa tanda tangan di KTP-nya, bukan sekedar cap jempol.***

Iklan

Aksi

Information

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: